Teknologi, Ilmu Pengetahuan, dan Kemiskinan

Pendahuluan

Mungkin banyak pertanyaan yang muncul kenapa teknologi sangat berpengaruh terhadap kemiskinan. Apa hubungan teknologi dengan kemiskinan. Apa mungkin teknologi bisa membuat seseorang menjadi dikatakan “miskin”.
Fakta di lapangannya memang demikian. Teknologi yang kian berkembangan akan terus berkembang mengikuti jaman. Manusia yang mampu menguasai teknologi akan mampu memperbaiki hidup dan terus berkembang. Sementara manusia yang cenderung “diam di tempat” akan terus tertinggal dengan perkembangan yang ada.
Tentunya hal ini jika dibiarkan terjadi justru akan merugikan bagi para manusia yang belum atau bahkan sama sekali tidak menguasai teknologi.
Mengapa demikian?
Simak rangkuman singkat mengenai hubungan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemiskinan di bawah ini.


Pengertian Ilmu Pengetahuan
Di kalangan ilmuwan ada keseragaman pendapat, bahwa “ilmu” selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dalam objek tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/ logis, empiris, umum dan akumulatif. Sedangkan pengertian “pengetahuan”, Bacon dan David Home, menyatakan pengetahuan sebagai pengalaman indera dan batin. Immanuel Kant menyatakan bahwa pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman, sedangkan teori Phyrro menjelaskan bahwa tidak ada kepastian dalam pengetahuan.
Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penting yang disusunnya yaitu :
1.   Epistemologis merupakan cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh ilmu pengetahuan.
2.     Ontologis dapat diartikan hakekat apa yang dikaji oleh pengetahuan.
3.     Aksiologis adalah fungsi dari ilmu pengetahuan.

·        Pengertian Teknologi
Teknologi adalah pemanfaatan ilmu untuk memecahkan suatu masalah dengan cara mengerahkan semua alat yang sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan skala nilai yang ada. Teknologi bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah praktis serta untuk mengatasi semua kesulitan yang mungkin dihadapi.

Dampak positif teknologi bagi kehidupan manusia
-         Bertambahnya ilmu pengetahuan dan wawasan
-         Semakin mudah mengakses semua informasi
-         Manusia semakin mudah mengakses berbagai konten yang ada di internet.
-  Membantu meringankan pekerjaan manusia. Contoh : mesin cuci, mesin di pabrik,  dan sebagainya.
-         Manusia dapat berkomunikasi walaupun terhalang jarak.
-         Semakin mudah menemukan teman di jejaring sosial.
-         Dan masih banyak lagi.

Dampak negatif teknologi bagi kehidupan manusia
-         Kesempatan kerja yang semakin berkurang karena tergantikan oleh teknologi yang semakin canggih.
-         Mempengaruhi pola pikir dengan banyak informasi negative yang belum diketahui kebenarannya.
-         Hilangnya nilai-nilai tradisional. Contohnya : pasar tradisional yang dulu menjadi pusat perbelanjaan kini beralih ke pasar modern. Bahkan dengan perkembangan teknologi yang pesat, sekarang muncul “online shop” yang semakin menggerus keberadaan pasar tradisonal.
-         Manusia seakan lupa dengan kehidupan sekitarnya karena “asik” dengan dunia maya.
-         Manusia menjadi cenderung malas karena dimanjakan oleh teknologi.
-         Penggunaan teknologi yang berlebihan cenderung dapat merusak. Contoh : teknologi yang digunakan untuk mengelola sumber daya alam (SDA), jika digunakan secara berlebihan maka akan merugikan generasi yang akan datang.
-         Dan lain sebagainya


·        Dampak Teknologi terhadap kemiskinan

Apa sih yang menjadi tolak ukur seseorang dikatakan “miskin”?
Kemiskinan tidak bisa dipahami dengan menggunakan satu indikator saja. Kemiskinan sangat kompleks, sehingga diperlukan indikator atau ukuran yang multidimensi. Indikator yang banyak digunakan adalah indikator global dengan menggunakan pendekatan moneter seperti garis kemiskinan yang digunakan oleh World Bank dengan batas USD 1.25 Purchasing Power Parity (PPP) atau melalui pendekatan konsumsi dasar (basic need) yang digunakan pula di Indonesia. Sementara itu, pendekatan tersebut hanya melihat indikator pendapatan atau konsumsi yang dilakukan masyarakat dan menurut Sen (2000) dianggap belum menangkap akar permasalahan kemiskinan yang sebenarnya.
Ada tiga indikator yang digunakan untuk memahami persoalan kemiskinan, yaitu kesehatan, pendidikan, dan standar kualitas hidup. Indikator-indikator tersebut menunjukan bahwa pedekatan moneter dan konsumsi saja tidak cukup untuk memberikan gambaran yang jelas tentang kemiskinan, diperlukan indikator-indikator lain seperti kesehatan, pendidikan, dan standar kualitas hidup.
Suatu bangsa akan dapat meningkat taraf kehidupannya jika bangsa itu bisa menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologinya. Jika suatu bangsa belum atau bahkan tidak dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, maka akan menjadi masalah yang besar bagi bangsa tersebut. Karena penyebab kemiskinan adalah kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi juga keterampilan yang sangat minim.
Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan suatu keharusan, agar dapat menciptakan sumber daa manusia yang berkualitas. Sehingga meminimalisir angka kemiskinan di suatu bangsa.
Salah satu contoh penanggulangan kemiskinan adalah dengan diberikannya kesempatan dalam memperoleh pendidikan agar suatu bangsa dapat memiliki wawasan yang luas dan kehidupan yang lebih sejahtera.
Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberi dampak positif yang menguntukan di berbagai sektor. Namun, tidak sedikit juga dampak negatif yang ditimbulkan.
Apabila manusia tidak mampu menemukan solusi permasalahan yang timbul dampak negatif tersebut akan berujung pada kemiskinan.
Berikut adalah dampak negatif dari perkembangan, pemanfaatan dan penerapan iptek dalam kehidupan manusia yang menimbulkan masalah kemiskinan:

1. Kesenjangan sosial.
Perkembangan teknologi dalam berbagai bidang memang sangat menguntungkan. Terutama lapangan pekerjaan yang semakin luas dan pendapatan yang kian meningkat. Namun di sisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi ini juga merugikan. Bahkan hal tersebut juga dapat menimbulkan kesenjangan sosial di masyarakat.
Pepatah “ yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin” terbukti dengan realita yang ada sekarang. Mereka yang menguasai teknologi akan terus berkembang dan semakin memperbaiki taraf hidupnya. Sementara mereka yang tidak menguasai teknologi akan  semakin tertinggal dan terpuruk dalam kemiskinan.

2. Kerusakan lingkungan alam.
            Akibat dari semakin meningkatnya jumlah penduduk dan penerapan iptek yang kurang bijaksana telah menimbulkan kemerosotan kualitas lingkungan alam. Tidak hanya merosot, tetapi juga timbul kerusakan-kerusakan lingkungan alam. Beberapa masalah lingkungan alam yang berkaitan dengan merosot dan rusaknya kualitas lingkungan alam tersebut akan berujung pada kemiskinan. Adapun berbagai masalah lingkungan hidup tersebut antara lain :
-         Perkembangan IPTEK saat ini dimanfaatkan oleh pihak – pihak tertentu untuk mengejar keuntungan semaksimal mungkin tanpa memikirkan kondisi lingkungan alam. Mengekploitasi sumber daya alam (SDA) secara berlebihan dapat merusak lingkungan. Hal ini berdampak pada rusaknya kehidupan alam yang dapat menimbulkan masalah kemiskinan.
-         Pencemaran.
Limbah – limbah bekas pengolahan produksi di pabrik-pabrikk dapat mencemari lingkungan. Limbah pabrik yang paling berbahaya adalah limbah-limbah yang mengandung bahan kimia berbahaya. Bukan hanya dapat merusak lingkungan, limbah-limbah yang tidak dikelola dengan baik ini akan mengancam kesehatan manusia dan menyebabkan kemiskinan, bahkan dampak terparahnya adalah dapat menyebabkan kematian pada makhluk hidup (manusia, hewan, dan tumbuhan).
-         Bencana alam.
Berbagai bencana alam yang sering melanda manusia memang bukan suatu yang dapat diprediksi. Namun, jika manusia dapat menjaga lingkungan tentunya dapat meminimalisir terjadinya bencana tersebut. Contoh bencana yang sering terjadi di masyarakat adalah banjir. Banjir kerap melanda masyarakat saat musim hujan tiba. Tentunya hal ini sangat merugikan masyarakat dari segi materiil dan non materiil. Sejatinya, banjir dapat dicegah dengan tidak membuang sampah sembarangan. Tetapi pada kenyataannya penyebab terbesar terjadinya bencana banjir adalah karena kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan sekitar.

3. Kekhawatiran manusia terhadap persenjataan kimia dan nuklir.
     Perkembangan iptek tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan persenjataan canggih, termasuk senjata kimia dan nuklir. Hal ini dapat membahayakan kehidupan manusia. Contoh nyata adalah perang Irak dengan AS, yang banyak menggunakan kecanggihan teknologi nuklir. Akibatnya banyak jatuh korban, bukan hanya menjadi miskin tetapi tewas akibat perang yang terjadi.

4. Kenakalan remaja.
Perkembangan IPTEK saat ini memudahkan semua kalangan dapat menerima dan mencari informasi dari berbagai sumber. Entah itu media cetak, media elektronik, dan media massa lainnya. Bahkan internet saat ini disebut – sebut sebagai media yang paling berpengaruh kepada masyarakat terutama remaja. Siapa pun dapat mengakses konten-konten yang ada di internet.berbagai informasi tersedia di internet, dari yang positif sampai yang negatif.
Kebanyakan remaja menyalahgunakan internet untuk mengakses konten-konten pornografi. Hal ini tentunya sangat berpengaruh pada kondisi psikis dan psikologis para remaja. Mereka yang seharusnya menikmati masa-masa remaja nya dengan baik malah berpikiran yang belum sesuai umurnya sehingga menimbulkan keinginan untuk mencoba secara langsung. Tentunya hal ini berdampak pada lingkungan sekitar mereka.
Generasi muda diharapkan dapat membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Namun jika kenakalan remaja tidak segera ditangani, kemiskinan dan kehancuran suatu bangsa akan terjadi tempo hari.

5. Kriminalitas, pengangguran dan kemiskinan.
Sebelum sektor industri memanfaatkan dan menerapkan teknologi, banyak tenaga manusia yang dibutuhkan. Tetapi setelah memanfaatkan dan menerapkan teknologi dalam kegiatan industri, maka industri lebih banyak menggunakan mesin-mesin canggih daripada tenaga manusia. Maka terjadi PHK besar-besaran, akibatnya banyak pengangguran, dari banyaknya pengangguran akan timbul masalah kemiskinan. Dalam kehidupan sehari-hari manusia memerlukan pemenuhan kebutuhan baik barang dan jasa, karena tidak mempunyai pekerjaan lagi maka banyak orang mengambil jalan pintas untuk memenuhi kebutuhannya dengan melakukan tindak kriminal (merampok, mencopet, menjambret ,dan lain-lain).


·        Contoh kasus

“Teknologi, Ketimpangan, dan Kemiskinan”
ADA begitu banyak impresi yang muncul dari perkembangan teknologi informasi di masa kini. Kemajuan teknologi dan juga sistem informasi belakangan ini sangat layak untuk kita sebut dalam masa yang begitu “menggila”.
Dahulu kala ketika perkembangan teknologi mulai menginspirasi hadirnya revolusi industri, perkembangan teknologi masih berpusat pada piranti-piranti keras (hardware) seperti mesin produksi pertanian dan industri, alat transportasi, dan pertambangan. Namun kini piranti-piranti lunak (software) jumlahnya jauh lebih banyak mendominasi dan terus mengalami perkembangan.
Dalam sebuah buku teori ekonomi pembangunan karya Michael Todaro, teknologi sering disebut sebagai input produksi yang keempat, setelah tenaga kerja, modal, dan tanah. Secara umum keempat input produksi memang sangat diperlukan untuk membangun perekonomian suatu bangsa. Ketika keempat faktor produksi dasar tersebut mampu disediakan maka secara normatif kemajuan sebuah negara akan sulit dielakkan.
Ada harapan yang begitu besar dari ikhtiar suatu negara untuk terus mengefisiensikan ekonominya melalui perkembangan teknologi. Pada konferensi Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED) ke-7 yang diselenggarakan pada pekan lalu di Jakarta, Kementerian Keuangan mengangkat tema “Riding The Waves of Technological Change: The Way Forward to Drive Productivity and Alleviate Inequality” sebagai tajuk diskusi.
AIFED tahun ini membahas tentang pertumbuhan teknologi dan pengaruhnya pada ketimpangan dan pengurangan kemiskinan. Tentu saja dalam forum tersebut juga terselip harapan agar kualitas kebijakan publik dan perpaduannya dengan perkembangan teknologi akan menghasilkan banyak perbaikan.
Pemerintah kita memang secara perlahan-lahan mulai mengadopsi pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang efektivitas layanan publiknya. Hal ini selaras dengan target implementasi reformasi bikrokrasi. Pemerintah semakin memperluas lapak-lapak bagi masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan (governance) sumber daya negara.
Menteri Keuangan dalam sambutannya berharap bahwa transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik akan lebih mudah direalisasikan dengan penerapan teknologi pada administrasi pemerintahan. Sehingga, nantinya kebijakan pemerintah akan jauh lebih akurat, tepat, dan cepat. Prinsip-prinsip ABS (Asal Bapak Senang) akan hilang dengan sendirinya.
Reformasi birokrasi yang begitu lama diidam-idamkan akan mudah digelar dimana profesionalitas serta merit system pada kinerja ASN (Aparatur Sipil Negara) akan juga lebih mudah dijalankan. Itu semua hal-hal positif yang sangat mungkin terjadi ketika penerapan teknologi informasi disadurkan pada public policy dan administrasi pemerintahan. Namun faktanya tidak semua teknologi mampu menunjang aktivitas manusia, khususnya di sektor swasta.
Jika dikaitkan dengan aktivitas bisnis perusahaan, mungkin hanya sekelumit perusahaan yang mampu mengawinkan secara sempurna dimana penggunaan teknologi akan mendukung produktivitas sumber daya manusia (SDM).  Sedangkan sisanya mungkin justru bermain-main dalam pola zero sum game. Teknologi mesin dan sistem informasi malah tumbuh liar menjadi pesaing berat bagi tenaga kerja manusia.
Kejadian ini seperti mengulang era revolusi industri di awal perekonomian modern, dimana eksistensi teknologi mesin telah menggeser permintaan tenaga kerja pada produksi, meskipun dari sisi agregatnya turut mampu meningkatkan hasil produksi dan ekonomi berkat berbagai inovasi yang melahirkan banyak efisiensi.
Pengalaman di sebagian besar negara berkembang memang agak berbeda karena banyak teknologi yang kurang bisa bersifat complementary pada tenaga kerja manusia. Sehingga penerapan teknologi lebih banyak akan mengurangi jumlah tenaga kerja. Dalam fase berikutnya penerapan teknologi bahkan bisa mendorong angka kemiskinan melonjak akibat jumlah pengangguran yang makin melambung, serta dampaknya secara makro akan memperlebar ketimpangan antardaerah dan kelompok pendapatan.
Dalam hal ini pemerintah perlu juga menghimbau agar pelaku usaha bisa bersikap arif dalam penggunaan teknologi. Karena tidak semua teknologi akan selaras dengan misi pembangunan sosial, khususnya terkait kemiskinan dan ketimpangan. OECD (2011) menjelaskan ada teknologi yang justru berperan melambungkan ketimpangan dengan istilah fenomena skills-biased.
IMF (2007) menambahkan bahwa ada teknologi yang menjadi driving force atas skills premium, sehingga gap antara high-skilled workers dan low-skilled workers akan semakin menggunung. Muaranya nanti tinggal menunggu waktukapan kenaikan koefisien Gini akan mencapai titik puncaknya.
Pendapat kedua lembaga internasional tersebut mungkin ada benarnya. Karena di Indonesia sendiri perjalanannya sudah mengarah demikian liarnya. Memang kita tidak bisa menghindari atau bahkan menyalahkan bahwa sebagian pelaku usaha begitu menikmati adanya kemajuan teknologi. Pertumbuhan ekonomi selalu kita raih, profit sebagian orang kaya kian membumbung tinggi. Apalagi ketika tenaga kerja manusia telah dapat digantikan oleh penggunaan mesin, pengusaha yang cenderung profit oriented dan padat modal akan semakin berpikir ekonomis.
Mereka juga tidak perlu lagi susah-susah berantem dengan asosiasi-asosiasi tenaga kerja untuk bernegosiasi terkait tuntutan-tuntutan karyawannya. Apalagi pasar tenaga kerja kita sudah cukup terkenal secara agregat tidak cukup tangguh menghadapi rezim persaingan global. Lembaga-lembaga kajian dan pemerintah mulai was-was akan bahaya peningkatan jumlah permasalahan sosial akibat semakin meluasnya digitalisasi ekonomi.
International LaborOrganization (ILO, 2017) pernah memperkirakan bahwa risiko dari digitalisasi teknologi telah menghilangkan 86% pekerjaan sektor garmen dan alas kaki di Vietnam, Kamboja dan Myanmar. Kondisi serupa juga dialami oleh banyak negara, khususnya negara berkembang. Proyeksi di Indonesia kurang lebih akan sama. Sektor padat karya yang eksistensi tenaga kerjanya paling terancam adalah pertanian, industri, dan jasa. Sulit dipungkiri betapa teknologi berangsur-angsur telah menghilangkan sejumlah pekerjaan, meskipun teknologi juga menjanjikan pekerjaan baru akan tetapi jumlahnya tidak cukup berimbang.
Kembali ke topik perkembangan teknologi dan persoalan mesin vs manusia tadi. Ada baiknya jika kita mulai menelusuri mengapa teknologi yang ada malah seperti menabuh genderang perang karena merusak eksistensi tenaga kerja manusia. Logika yang paling sederhana, hal ini bisa terjadi dengan sangat mudah bisa jadi dikarenakan lemahnya pendidikan dan keterampilan (knowledge and skills), serta infrastruktur yang memungkinkan sumber daya kurang aktif bergerak antardaerah dan antarsektor pekerjaan.
Saat pendidikan (baik untuk knowledge maupun skills) sudah dapat diberkembangkan dengan cepat dan merata seperti saat ini (era disruption), maka teknologi akan berdampak positif terhadap perekonomian. Lompatan output (produk domestik bruto/PDB) sangat mungkin bisa langsung signifikan. Sebagai contoh, pada umumnya negara-negara maju anggota OECD ketika kita bandingkan rasio tingkat upah terhadap PDB-nya antara medio 1990-an dengan sekitar 2015-an, maka akan terlihat sejumlah peningkatan walau tidak selalu bombastis.
Sedangkan pertumbuhan rasio di negara-negara berkembang tidak selalu sama dengan negara maju karena pola peningkatannya seringkali bersifat geometris. Artinya peningkatan upah di negara berkembang relatif lebih lambat dibandingkan peningkatan output. Hal ini diduga, karena perkembangan dunia pendidikan yang gagal menunjukkan lompatan.
Data yang dihimpun dari Kemenristek Dikti menyebutkan kita memiliki sekitar 4.578 perguruan tinggi mulai yang berbentuk akademi, sekolah tinggi, politeknik, institut, dan universitas yang tersebar di seluruh Indonesia. Akan tetapi hanya segelintir perguruan tinggi yang mampu menembus jajaran top university di seluruh dunia. Berdasarkan QS World University Rankings 2018, hanya ada 9 perguruan tinggi di Indonesia yang menembus jajaran peringkat 1.000 besar dunia.
Kemudian berdasarkan peringkat yang dirilis lembaga 4 International Colleges & Universities (4icu), hanya ada 7 perguruan tinggi Indonesia yang menembus jajaran 200 kampus elite se-Asia. Hal ini menunjukkan bahwa daya saing pendidikan kita tidaklah cukup menggembirakan. Perlu ada inovasi yang lebih mendalam agar sistem pendidikan yang nanti juga berdampak pada pembentukan kualitas SDM, bisa selaras dengan perkembangan teknologi massal dan dunia kerja. Selain itu, aturan sistem pengupahan masih cukup ketat (controlled) juga perlu disegarkan bentuk kelembagaannya.
Oleh karena itu sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk segera menemukan solusi bagaimana idealnya agar perkembangan teknologi ini tidak merusak tatanan pembangunan sosial yang impresif. Implementasi teknologi sangat penting dalam pemerintahan (publicpolicy) maupun perekonomian. Namun perlu disusun secara bertahap dan hati-hati (selected technology) karena ada barrier SDM dan infrastruktur (fisik dan sosial) yang ketidakmerataannya begitu nyata. Jika tidak, maka penerapan teknologi bukan mengurangi ketimpangan dan kemiskinan, tetapi malah sebaliknya.
Kesiapan SDM di birokrasi dalam penerapan teknologi sangat penting untuk meningkatkan layanan pungutan pajak (e-commerce), mengetahui performanceperekonomian/program setelah diterapkan suatu kebijakan, optimalisasi pajak, dan lain sebagainya. Sementara itu di sektor swasta, institusi yang berwenang pada kesiapan dan kualitas SDM (tenaga kerja) juga harus segera berbenah. Para pengusaha jangan dibiarkan kapok karena kualitas tenaga kerja kita yang pas-pasan. Apalagi persoalan yang sekarang terjadi banyak tenaga kerja yang berkarya di luar bidang yang mereka tekuni selama masa pendidikan (overlapping). Mereka berpikir sederhana, “yang penting dapat kerja”.
Bahkan alumni-alumni SMK dan pendidikan vokasi yang seharusnya menjadi tenaga terampil siap pakai, malah tidak sedikit yang statusnya sebagai pengangguran. Artinya sistem pendidikan kita perlu ditegakluruskan kembali dengan dunia kerja. Dunia pendidikan akan selamanya menjadi senjata yang terdepan untuk mencetak generasi yang adaptif, sehingga tidak gagap dan alergi dengan kemajuan teknologi.
Berikutnya, pemerintah tinggal menyiapkan fasilitas asimetris dan afirmatif pada sektor-sektor atau wilayah-wilayah ekonomi yang kondisinya memang membutuhkan bantuan khusus. Kemajuan teknologi seharusnya mampu dikelola agar menjadi sahabat manusia, bukan malah menjadi musuh tenaga kerja.

·        
     Pendapat saya mengenai permasalahan di atas

Menurut saya, masalah di atas memang terjadi bukan hanya satu atau dua kasus saja.  Banyak sekali permasalahan mengenai kemiskinan yang di faktori oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Teknologi yang seharusnya menjadi sahabat manusia, malah kini berbalik menjadi musuh terbesar manusia apabila manusia tidak bisa menguasainya.
      Realita yang ada saat ini adalah banyaknya manusia yang seakan terbudaki oleh teknologi. Banyak manusia yang belum mampu atau bahkan tidak mampu bersaing sama sekali karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan. Sementara dunia kerja sekarang membutuhkan sumber daya manusia yang unggul dan bias bersaing dengan manusia lainnya, serta diharapkan mampu menguasai teknologi sehingga dapat berinovasi secara maksimal.
      Harapan saya agar ke depan pemerintah lebih memperhatikan lagi kualitas dari sumber daya manusianya. Karena bangsa yang hebat salah satunya dapat diukur dari seberapa jauh perkembangan teknologi di suatu bangsa tersebut. Oleh karena itu, jika Indonesia mampu meningkatkan daya saing dalam bidang teknologi tersebut, bukan tidak mungkin Indonesia mampu disejajarkan dengan Negara-negara maju  yang teknologinya sudah canggih.

Sumber :



Komentar

Postingan Populer