Teknologi, Ilmu Pengetahuan, dan Kemiskinan
Pendahuluan
Mungkin
banyak pertanyaan yang muncul kenapa teknologi sangat berpengaruh terhadap
kemiskinan. Apa hubungan teknologi dengan kemiskinan. Apa mungkin teknologi bisa
membuat seseorang menjadi dikatakan “miskin”.
Fakta
di lapangannya memang demikian. Teknologi yang kian berkembangan akan terus
berkembang mengikuti jaman. Manusia yang mampu menguasai teknologi akan mampu
memperbaiki hidup dan terus berkembang. Sementara manusia yang cenderung “diam
di tempat” akan terus tertinggal dengan perkembangan yang ada.
Tentunya
hal ini jika dibiarkan terjadi justru akan merugikan bagi para manusia yang
belum atau bahkan sama sekali tidak menguasai teknologi.
Mengapa
demikian?
Simak
rangkuman singkat mengenai hubungan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,
dan kemiskinan di bawah ini.
Di kalangan ilmuwan ada keseragaman
pendapat, bahwa “ilmu” selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang
diperoleh dalam objek tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/ logis,
empiris, umum dan akumulatif. Sedangkan pengertian “pengetahuan”, Bacon dan David Home,
menyatakan pengetahuan sebagai pengalaman indera dan batin. Immanuel Kant menyatakan bahwa
pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman, sedangkan teori
Phyrro menjelaskan bahwa tidak ada kepastian dalam pengetahuan.
Ilmu pengetahuan pada dasarnya
memiliki tiga komponen penting yang disusunnya yaitu :
1. Epistemologis merupakan cara bagaimana materi
pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh ilmu pengetahuan.
2. Ontologis dapat diartikan hakekat apa
yang dikaji oleh pengetahuan.
3. Aksiologis adalah fungsi dari ilmu
pengetahuan.
·
Pengertian Teknologi
Teknologi adalah pemanfaatan ilmu
untuk memecahkan suatu masalah dengan cara mengerahkan semua alat yang sesuai
dengan nilai-nilai kebudayaan dan skala nilai yang ada. Teknologi bertujuan
untuk memecahkan masalah-masalah praktis serta untuk mengatasi semua kesulitan
yang mungkin dihadapi.
Dampak positif teknologi bagi
kehidupan manusia
-
Bertambahnya ilmu pengetahuan dan
wawasan
-
Semakin mudah mengakses semua
informasi
-
Manusia semakin mudah mengakses
berbagai konten yang ada di internet.
- Membantu meringankan pekerjaan
manusia. Contoh : mesin cuci, mesin di pabrik,
dan sebagainya.
-
Manusia dapat berkomunikasi walaupun
terhalang jarak.
-
Semakin mudah menemukan teman di
jejaring sosial.
-
Dan masih banyak lagi.
Dampak negatif teknologi bagi
kehidupan manusia
-
Kesempatan kerja yang semakin
berkurang karena tergantikan oleh teknologi yang semakin canggih.
-
Mempengaruhi pola pikir dengan banyak
informasi negative yang belum diketahui kebenarannya.
-
Hilangnya nilai-nilai tradisional.
Contohnya : pasar tradisional yang dulu menjadi pusat perbelanjaan kini beralih
ke pasar modern. Bahkan dengan perkembangan teknologi yang pesat, sekarang
muncul “online shop” yang semakin menggerus keberadaan pasar tradisonal.
-
Manusia seakan lupa dengan kehidupan
sekitarnya karena “asik” dengan dunia maya.
-
Manusia menjadi cenderung malas
karena dimanjakan oleh teknologi.
-
Penggunaan teknologi yang berlebihan
cenderung dapat merusak. Contoh : teknologi yang digunakan untuk mengelola
sumber daya alam (SDA), jika digunakan secara berlebihan maka akan merugikan
generasi yang akan datang.
-
Dan lain sebagainya
·
Dampak Teknologi terhadap kemiskinan
Apa sih yang menjadi tolak ukur
seseorang dikatakan “miskin”?
Kemiskinan tidak bisa dipahami dengan
menggunakan satu indikator saja. Kemiskinan sangat kompleks, sehingga
diperlukan indikator atau ukuran yang multidimensi. Indikator yang banyak
digunakan adalah indikator global dengan menggunakan pendekatan moneter seperti
garis kemiskinan yang digunakan oleh World Bank dengan batas USD 1.25 Purchasing
Power Parity (PPP) atau melalui pendekatan konsumsi dasar (basic need) yang
digunakan pula di Indonesia. Sementara itu, pendekatan tersebut hanya melihat
indikator pendapatan atau konsumsi yang dilakukan masyarakat dan menurut Sen
(2000) dianggap belum menangkap akar permasalahan kemiskinan yang sebenarnya.
Ada tiga indikator yang digunakan
untuk memahami persoalan kemiskinan, yaitu kesehatan, pendidikan, dan standar
kualitas hidup. Indikator-indikator tersebut menunjukan bahwa pedekatan moneter
dan konsumsi saja tidak cukup untuk memberikan gambaran yang jelas tentang
kemiskinan, diperlukan indikator-indikator lain seperti kesehatan, pendidikan,
dan standar kualitas hidup.
Suatu
bangsa akan dapat meningkat taraf kehidupannya jika bangsa itu bisa menguasai
Ilmu Pengetahuan dan Teknologinya. Jika suatu bangsa belum atau bahkan tidak
dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, maka akan menjadi masalah yang
besar bagi bangsa tersebut. Karena penyebab kemiskinan adalah kurangnya
penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi juga keterampilan yang sangat minim.
Penguasaan
terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan suatu keharusan, agar dapat
menciptakan sumber daa manusia yang berkualitas. Sehingga meminimalisir angka
kemiskinan di suatu bangsa.
Salah
satu contoh penanggulangan kemiskinan adalah dengan diberikannya kesempatan
dalam memperoleh pendidikan agar suatu bangsa dapat memiliki wawasan yang luas
dan kehidupan yang lebih sejahtera.
Tidak
dapat dipungkiri bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberi
dampak positif yang menguntukan di berbagai sektor. Namun, tidak sedikit juga
dampak negatif yang ditimbulkan.
Apabila
manusia tidak mampu menemukan solusi permasalahan yang timbul dampak negatif
tersebut akan berujung pada kemiskinan.
Berikut
adalah dampak negatif dari perkembangan, pemanfaatan dan penerapan iptek dalam
kehidupan manusia yang menimbulkan masalah kemiskinan:
1.
Kesenjangan sosial.
Perkembangan
teknologi dalam berbagai bidang memang sangat menguntungkan. Terutama lapangan
pekerjaan yang semakin luas dan pendapatan yang kian meningkat. Namun di sisi
lain tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi ini juga merugikan.
Bahkan hal tersebut juga dapat menimbulkan kesenjangan sosial di masyarakat.
Pepatah
“ yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin” terbukti dengan realita yang
ada sekarang. Mereka yang menguasai teknologi akan terus berkembang dan semakin
memperbaiki taraf hidupnya. Sementara mereka yang tidak menguasai teknologi
akan semakin tertinggal dan terpuruk
dalam kemiskinan.
2.
Kerusakan lingkungan alam.
Akibat dari semakin meningkatnya jumlah penduduk dan
penerapan iptek yang kurang bijaksana telah menimbulkan kemerosotan kualitas lingkungan
alam. Tidak hanya merosot, tetapi juga timbul kerusakan-kerusakan lingkungan
alam. Beberapa masalah lingkungan alam yang berkaitan dengan merosot dan
rusaknya kualitas lingkungan alam tersebut akan berujung pada kemiskinan.
Adapun berbagai masalah lingkungan hidup tersebut antara lain :
-
Perkembangan IPTEK saat ini
dimanfaatkan oleh pihak – pihak tertentu untuk mengejar keuntungan semaksimal
mungkin tanpa memikirkan kondisi lingkungan alam. Mengekploitasi sumber daya
alam (SDA) secara berlebihan dapat merusak lingkungan. Hal ini berdampak pada rusaknya
kehidupan alam yang dapat menimbulkan masalah kemiskinan.
-
Pencemaran.
Limbah – limbah bekas pengolahan produksi di
pabrik-pabrikk dapat mencemari lingkungan. Limbah pabrik yang paling berbahaya
adalah limbah-limbah yang mengandung bahan kimia berbahaya. Bukan hanya dapat
merusak lingkungan, limbah-limbah yang tidak dikelola dengan baik ini akan
mengancam kesehatan manusia dan menyebabkan kemiskinan, bahkan dampak
terparahnya adalah dapat menyebabkan kematian pada makhluk hidup (manusia,
hewan, dan tumbuhan).
-
Bencana alam.
Berbagai bencana alam yang sering melanda manusia
memang bukan suatu yang dapat diprediksi. Namun, jika manusia dapat menjaga
lingkungan tentunya dapat meminimalisir terjadinya bencana tersebut. Contoh
bencana yang sering terjadi di masyarakat adalah banjir. Banjir kerap melanda
masyarakat saat musim hujan tiba. Tentunya hal ini sangat merugikan masyarakat
dari segi materiil dan non materiil. Sejatinya, banjir dapat dicegah dengan
tidak membuang sampah sembarangan. Tetapi pada kenyataannya penyebab terbesar
terjadinya bencana banjir adalah karena kurangnya kesadaran masyarakat akan
kebersihan lingkungan sekitar.
3.
Kekhawatiran manusia terhadap persenjataan kimia dan nuklir.
Perkembangan iptek tidak menutup
kemungkinan untuk mengembangkan persenjataan canggih, termasuk senjata kimia
dan nuklir. Hal ini dapat membahayakan kehidupan manusia. Contoh nyata adalah
perang Irak dengan AS, yang banyak menggunakan kecanggihan teknologi nuklir.
Akibatnya banyak jatuh korban, bukan hanya menjadi miskin tetapi tewas akibat
perang yang terjadi.
4.
Kenakalan remaja.
Perkembangan
IPTEK saat ini memudahkan semua kalangan dapat menerima dan mencari informasi
dari berbagai sumber. Entah itu media cetak, media elektronik, dan media massa
lainnya. Bahkan internet saat ini disebut – sebut sebagai media yang paling
berpengaruh kepada masyarakat terutama remaja. Siapa pun dapat mengakses
konten-konten yang ada di internet.berbagai informasi tersedia di internet,
dari yang positif sampai yang negatif.
Kebanyakan
remaja menyalahgunakan internet untuk mengakses konten-konten pornografi. Hal
ini tentunya sangat berpengaruh pada kondisi psikis dan psikologis para remaja.
Mereka yang seharusnya menikmati masa-masa remaja nya dengan baik malah
berpikiran yang belum sesuai umurnya sehingga menimbulkan keinginan untuk
mencoba secara langsung. Tentunya hal ini berdampak pada lingkungan sekitar
mereka.
Generasi
muda diharapkan dapat membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Namun
jika kenakalan remaja tidak segera ditangani, kemiskinan dan kehancuran suatu
bangsa akan terjadi tempo hari.
5.
Kriminalitas, pengangguran dan kemiskinan.
Sebelum
sektor industri memanfaatkan dan menerapkan teknologi, banyak tenaga manusia
yang dibutuhkan. Tetapi setelah memanfaatkan dan menerapkan teknologi dalam
kegiatan industri, maka industri lebih banyak menggunakan mesin-mesin canggih
daripada tenaga manusia. Maka terjadi PHK besar-besaran, akibatnya banyak
pengangguran, dari banyaknya pengangguran akan timbul masalah kemiskinan. Dalam
kehidupan sehari-hari manusia memerlukan pemenuhan kebutuhan baik barang dan
jasa, karena tidak mempunyai pekerjaan lagi maka banyak orang mengambil jalan
pintas untuk memenuhi kebutuhannya dengan melakukan tindak kriminal (merampok,
mencopet, menjambret ,dan lain-lain).
·
Contoh kasus
“Teknologi, Ketimpangan, dan Kemiskinan”
ADA
begitu banyak impresi yang muncul dari perkembangan teknologi informasi di masa
kini. Kemajuan teknologi dan juga sistem informasi belakangan ini sangat layak
untuk kita sebut dalam masa yang begitu “menggila”.
Dahulu kala ketika perkembangan
teknologi mulai menginspirasi hadirnya revolusi industri, perkembangan teknologi
masih berpusat pada piranti-piranti keras (hardware) seperti mesin produksi pertanian dan
industri, alat transportasi, dan pertambangan. Namun kini piranti-piranti lunak
(software) jumlahnya
jauh lebih banyak mendominasi dan terus mengalami perkembangan.
Dalam
sebuah buku teori ekonomi pembangunan karya Michael Todaro, teknologi sering
disebut sebagai input produksi yang keempat, setelah tenaga kerja, modal, dan
tanah. Secara umum keempat input produksi memang sangat diperlukan untuk
membangun perekonomian suatu bangsa. Ketika keempat faktor produksi dasar
tersebut mampu disediakan maka secara normatif kemajuan sebuah negara akan
sulit dielakkan.
Ada harapan yang begitu besar dari
ikhtiar suatu negara untuk terus mengefisiensikan ekonominya melalui perkembangan teknologi.
Pada konferensi Annual International Forum on Economic Development and Public
Policy (AIFED) ke-7 yang diselenggarakan pada pekan lalu di
Jakarta, Kementerian Keuangan mengangkat tema “Riding The Waves of
Technological Change: The Way Forward to Drive Productivity and Alleviate
Inequality” sebagai tajuk diskusi.
AIFED
tahun ini membahas tentang pertumbuhan teknologi dan pengaruhnya pada
ketimpangan dan pengurangan kemiskinan. Tentu saja dalam forum tersebut juga
terselip harapan agar kualitas kebijakan publik dan perpaduannya dengan
perkembangan teknologi akan menghasilkan banyak perbaikan.
Pemerintah kita memang secara
perlahan-lahan mulai mengadopsi pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang
efektivitas layanan publiknya. Hal ini selaras dengan target implementasi
reformasi bikrokrasi. Pemerintah semakin memperluas lapak-lapak bagi masyarakat
untuk terlibat dalam pengelolaan (governance) sumber daya negara.
Menteri
Keuangan dalam sambutannya berharap bahwa transparansi, akuntabilitas, dan
partisipasi publik akan lebih mudah direalisasikan dengan penerapan teknologi
pada administrasi pemerintahan. Sehingga, nantinya kebijakan pemerintah akan
jauh lebih akurat, tepat, dan cepat. Prinsip-prinsip ABS (Asal Bapak Senang)
akan hilang dengan sendirinya.
Reformasi birokrasi yang begitu
lama diidam-idamkan akan mudah digelar dimana profesionalitas serta merit system pada
kinerja ASN (Aparatur Sipil Negara) akan juga lebih mudah dijalankan. Itu semua
hal-hal positif yang sangat mungkin terjadi ketika penerapan teknologi
informasi disadurkan pada public policy dan administrasi pemerintahan.
Namun faktanya tidak semua teknologi mampu menunjang aktivitas manusia,
khususnya di sektor swasta.
Jika dikaitkan dengan aktivitas
bisnis perusahaan, mungkin hanya sekelumit perusahaan yang mampu mengawinkan
secara sempurna dimana penggunaan teknologi akan mendukung produktivitas sumber
daya manusia (SDM). Sedangkan
sisanya mungkin justru bermain-main dalam pola zero sum game.
Teknologi mesin dan sistem informasi malah tumbuh liar menjadi pesaing berat
bagi tenaga kerja manusia.
Kejadian
ini seperti mengulang era revolusi industri di awal perekonomian modern, dimana
eksistensi teknologi mesin telah menggeser permintaan tenaga kerja pada
produksi, meskipun dari sisi agregatnya turut mampu meningkatkan hasil produksi
dan ekonomi berkat berbagai inovasi yang melahirkan banyak efisiensi.
Pengalaman di sebagian besar
negara berkembang memang agak berbeda karena banyak teknologi yang kurang bisa
bersifat complementary pada
tenaga kerja manusia. Sehingga penerapan teknologi lebih banyak akan mengurangi
jumlah tenaga kerja. Dalam fase berikutnya penerapan teknologi bahkan bisa
mendorong angka kemiskinan melonjak akibat jumlah pengangguran yang makin
melambung, serta dampaknya secara makro akan memperlebar ketimpangan
antardaerah dan kelompok pendapatan.
Dalam hal ini pemerintah perlu
juga menghimbau agar pelaku usaha bisa bersikap arif dalam penggunaan
teknologi. Karena tidak semua teknologi akan selaras dengan misi pembangunan
sosial, khususnya terkait kemiskinan dan ketimpangan. OECD (2011) menjelaskan
ada teknologi yang justru berperan melambungkan ketimpangan dengan istilah
fenomena skills-biased.
IMF (2007) menambahkan bahwa ada
teknologi yang menjadi driving force atas skills premium, sehingga gap antara high-skilled workers dan low-skilled workers akan
semakin menggunung. Muaranya nanti tinggal menunggu waktukapan kenaikan
koefisien Gini akan mencapai titik puncaknya.
Pendapat kedua lembaga
internasional tersebut mungkin ada benarnya. Karena di Indonesia sendiri
perjalanannya sudah mengarah demikian liarnya. Memang kita tidak bisa
menghindari atau bahkan menyalahkan bahwa sebagian pelaku usaha begitu
menikmati adanya kemajuan teknologi. Pertumbuhan ekonomi selalu kita raih,
profit sebagian orang kaya kian membumbung tinggi. Apalagi ketika tenaga kerja
manusia telah dapat digantikan oleh penggunaan mesin, pengusaha yang
cenderung profit
oriented dan padat modal akan semakin berpikir ekonomis.
Mereka juga tidak perlu lagi
susah-susah berantem dengan asosiasi-asosiasi tenaga kerja
untuk bernegosiasi terkait tuntutan-tuntutan karyawannya. Apalagi pasar tenaga
kerja kita sudah cukup terkenal secara agregat tidak cukup tangguh menghadapi
rezim persaingan global. Lembaga-lembaga kajian dan pemerintah mulai was-was
akan bahaya peningkatan jumlah permasalahan sosial akibat semakin meluasnya
digitalisasi ekonomi.
International LaborOrganization (ILO,
2017) pernah memperkirakan bahwa risiko dari digitalisasi teknologi telah menghilangkan
86% pekerjaan sektor garmen dan alas kaki di Vietnam, Kamboja dan Myanmar.
Kondisi serupa juga dialami oleh banyak negara, khususnya negara berkembang.
Proyeksi di Indonesia kurang lebih akan sama. Sektor padat karya yang
eksistensi tenaga kerjanya paling terancam adalah pertanian, industri, dan
jasa. Sulit dipungkiri betapa teknologi berangsur-angsur telah menghilangkan
sejumlah pekerjaan, meskipun teknologi juga menjanjikan pekerjaan baru akan
tetapi jumlahnya tidak cukup berimbang.
Kembali ke topik perkembangan
teknologi dan persoalan mesin vs manusia tadi. Ada baiknya jika kita mulai
menelusuri mengapa teknologi yang ada malah seperti menabuh genderang perang
karena merusak eksistensi tenaga kerja manusia. Logika yang paling sederhana,
hal ini bisa terjadi dengan sangat mudah bisa jadi dikarenakan lemahnya
pendidikan dan keterampilan (knowledge and skills), serta infrastruktur yang
memungkinkan sumber daya kurang aktif bergerak antardaerah dan antarsektor
pekerjaan.
Saat pendidikan (baik untuk knowledge maupun skills) sudah dapat
diberkembangkan dengan cepat dan merata seperti saat ini (era disruption), maka
teknologi akan berdampak positif terhadap perekonomian. Lompatan output (produk
domestik bruto/PDB) sangat mungkin bisa langsung signifikan. Sebagai contoh,
pada umumnya negara-negara maju anggota OECD ketika kita bandingkan rasio
tingkat upah terhadap PDB-nya antara medio 1990-an dengan sekitar 2015-an, maka
akan terlihat sejumlah peningkatan walau tidak selalu bombastis.
Sedangkan pertumbuhan rasio di
negara-negara berkembang tidak selalu sama dengan negara maju karena pola
peningkatannya seringkali bersifat geometris. Artinya peningkatan upah di
negara berkembang relatif lebih lambat dibandingkan peningkatan output. Hal ini
diduga, karena perkembangan dunia pendidikan yang gagal menunjukkan lompatan.
Data yang dihimpun dari
Kemenristek Dikti menyebutkan kita memiliki sekitar 4.578 perguruan tinggi
mulai yang berbentuk akademi, sekolah tinggi, politeknik, institut, dan
universitas yang tersebar di seluruh Indonesia. Akan tetapi hanya segelintir
perguruan tinggi yang mampu menembus jajaran top university di
seluruh dunia. Berdasarkan QS World University Rankings 2018, hanya ada 9
perguruan tinggi di Indonesia yang menembus jajaran peringkat 1.000 besar
dunia.
Kemudian berdasarkan peringkat
yang dirilis lembaga 4 International Colleges & Universities (4icu),
hanya ada 7 perguruan tinggi Indonesia yang menembus jajaran 200 kampus elite
se-Asia. Hal ini menunjukkan bahwa daya saing pendidikan kita tidaklah cukup
menggembirakan. Perlu ada inovasi yang lebih mendalam agar sistem pendidikan
yang nanti juga berdampak pada pembentukan kualitas SDM, bisa selaras dengan
perkembangan teknologi massal dan dunia kerja. Selain itu, aturan sistem
pengupahan masih cukup ketat (controlled) juga perlu disegarkan bentuk
kelembagaannya.
Oleh karena itu sudah menjadi
tanggung jawab kita bersama untuk segera menemukan solusi bagaimana idealnya
agar perkembangan teknologi ini tidak merusak tatanan pembangunan sosial yang
impresif. Implementasi teknologi sangat penting dalam pemerintahan (publicpolicy)
maupun perekonomian. Namun perlu disusun secara bertahap dan hati-hati (selected technology)
karena ada barrier SDM
dan infrastruktur (fisik dan sosial) yang ketidakmerataannya begitu nyata. Jika
tidak, maka penerapan teknologi bukan mengurangi ketimpangan dan kemiskinan,
tetapi malah sebaliknya.
Kesiapan SDM di birokrasi dalam
penerapan teknologi sangat penting untuk meningkatkan layanan pungutan pajak (e-commerce),
mengetahui performanceperekonomian/program
setelah diterapkan suatu kebijakan, optimalisasi pajak, dan lain sebagainya.
Sementara itu di sektor swasta, institusi yang berwenang pada kesiapan dan
kualitas SDM (tenaga kerja) juga harus segera berbenah. Para pengusaha jangan
dibiarkan kapok karena kualitas tenaga kerja kita yang pas-pasan. Apalagi
persoalan yang sekarang terjadi banyak tenaga kerja yang berkarya di luar
bidang yang mereka tekuni selama masa pendidikan (overlapping).
Mereka berpikir sederhana, “yang penting dapat kerja”.
Bahkan
alumni-alumni SMK dan pendidikan vokasi yang seharusnya menjadi tenaga terampil
siap pakai, malah tidak sedikit yang statusnya sebagai pengangguran. Artinya
sistem pendidikan kita perlu ditegakluruskan kembali dengan dunia kerja. Dunia
pendidikan akan selamanya menjadi senjata yang terdepan untuk mencetak generasi
yang adaptif, sehingga tidak gagap dan alergi dengan kemajuan teknologi.
Berikutnya,
pemerintah tinggal menyiapkan fasilitas asimetris dan afirmatif pada
sektor-sektor atau wilayah-wilayah ekonomi yang kondisinya memang membutuhkan
bantuan khusus. Kemajuan teknologi seharusnya mampu dikelola agar menjadi
sahabat manusia, bukan malah menjadi musuh tenaga kerja.
·
Pendapat saya mengenai permasalahan di atas
Menurut saya, masalah
di atas memang terjadi bukan hanya satu atau dua kasus saja. Banyak sekali permasalahan mengenai
kemiskinan yang di faktori oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK). Teknologi yang seharusnya
menjadi sahabat manusia, malah kini berbalik menjadi musuh terbesar manusia
apabila manusia tidak bisa menguasainya.
Realita yang ada saat ini adalah banyaknya
manusia yang seakan terbudaki oleh teknologi. Banyak manusia yang belum mampu
atau bahkan tidak mampu bersaing sama sekali karena kurangnya pengetahuan dan
keterampilan. Sementara dunia kerja sekarang membutuhkan sumber daya manusia
yang unggul dan bias bersaing dengan manusia lainnya, serta diharapkan mampu
menguasai teknologi sehingga dapat berinovasi secara maksimal.
Harapan saya agar ke depan pemerintah
lebih memperhatikan lagi kualitas dari sumber daya manusianya. Karena bangsa
yang hebat salah satunya dapat diukur dari seberapa jauh perkembangan teknologi
di suatu bangsa tersebut. Oleh karena itu, jika Indonesia mampu meningkatkan
daya saing dalam bidang teknologi tersebut, bukan tidak mungkin Indonesia mampu
disejajarkan dengan Negara-negara maju
yang teknologinya sudah canggih.
Sumber :
Komentar
Posting Komentar