Toleransi Beragama di Indonesia


Sebelum membahas lebih jauh mengenai toleransi beragama di Indonesia kita harus mengetahui arti dari toleransi itu sendiri. Dilansir dari Wikipedia, Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antar-individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya.
Bisa kita simpulkan bahwa sejatinya, Sikap toleransi menghindarkan terjadinya diskriminasi, namun fakta di lapangan menyebut banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat yang justru bersitegang akibat kurangnya toleransi kepada sesama.
Ada toleransi pasti terdapat pula yang disebut intoleran. Menurut KBBI, intoleran merupakan sikap tidak tenggang rasa atau tidak menghormati. Pastinya sudah banyak terjadi kasus yang berkaitan dengan intoleransi. Contoh sederhananya saja, dalam kehidupan sehari – hari pun sering kita jumpai orang-orang yang enggan memberikan toleransi (intoleran) kepada saudara, teman, atau pun kerabatnya. Bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa rasa toleransi dewasa ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Toleransi juga terdapat berbagai macam jenis, antara lain toleransi beragama, toleransi budaya, dan toleransi politik. Namun, pembahasan kali ini akan difokuskan pada toleransi beragama yang terjadi di Indonesia. Mulai dari hakihat toleransi beragama sampai dengan contoh toleransi beragama di berbagai wilayah di Indonesia. Akan kita kaji pula apakah toleransi beragama di Indonesia sudah sesuai dengan pribadi dan nilai-nilai yang mencerminkan kalau kita adalah “Indonesia”.
Langsung saja kita ke topik pembahasannya berikut ini.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------

·         
Kita mulai dengan menilik artikel di bawah ini yang berkaitan dengan contoh positif toleransi beragama di Indonesia.

Umat Islam dan Kristen tunjukkan toleransi di hari raya


Hak atas fotoAFPImage caption
Sebuah gereja dan masjid di Malang yang terletak bersampingan masing-masing menggelar acara keagamaan.

Tahun ini hari raya umat Islam Maulid Nabi Muhammad dan umat Kristen Natal jatuh hampir bersamaan yakni pada tanggal 24 Desember dan 25 Desember.
Bagi sejumlah pemuda di Cirebon momen ini digunakan untuk saling bantu membantu agar perayaan kedua hari raya tersebut berjalan dengan lancar.
Sugianto, seorang anggota dari organisasi masyarakat bernama Pelita (Pemuda Lintas Agama) mengatakan dirinya dan beberapa pemuda anggota lainnya membantu perayaan Maulid Nabi di sebuah universitas di Cirebon, meski bukan penganut agama Islam.
"Dalam membantu itu kita menyiapkan segala sesuatunya, baik angkut-angkut kursi, soundsystem (sistem suara), perlengkapan lain seperti dekorasi, lalu dalam hal ini juga kita berbagi tugas soal parkiran," kata Sugianto.
Di lain pihak, pemuda yang beragama Islam juga membantu umat Kristen mempersiapkan acara untuk Natal.
"Udah dua hari ini bantu-bantu, nyiapin persiapan Natal. Itu bentuk dari kegiatan sosial karena Pelita kan orientasinya menjaga kerukunan umat beragama, di bidang sosialnya, bukan teologinya," ucap Haryono yang juga tergabung dalam Pelita.

Gereja dan masjid berdampingan

Natal tahun ini juga kebetulan jatuh pada hari Jumat. Oleh karena itu, Gereja Immanuel di Malang akan melakukan perayaan hari Natal pada pukul 08.00 - 10.30 WIB untuk tidak mengganggu jalannya Salat Jumat.
Gereja tersebut berada dekat dengan sebuah masjid, yakni Masjid Agung Jami yang juga mengadakan pengajian Maulid Nabi pada Kamis (24/12) malam, bertepatan dengan misa malam Natal.
Hak atas fotoPELITAImage caption
Sejumlah pemuda dari organisasi pemuda lintas agama menyiapkan perayaan Natal.

"Kemarin kami kordinasi, sifatnya sama-sama kita mengatur keamanan, sama-sama kita mengatur parkir. Parkir kita kan bersama yah," kata Emmawati Baule, pendeta dan ketua di GPIB Immanuel Malang.
Menurut KH Zainuddin A Muhith, ketua umum takmir Masjid Agung Jami Malang, masjidnya dan Gereja Immanuel selama ini memang selalu saling toleransi dan bekerja sama.
"Misalnya, pihak-pihak gereja mengajak pada suatu saat di ulang tahunnya untuk kerja bakti tentang keindahan kota, ngecat jalan, kami menyediakan tenaga, antara lain. Itu kan menunjukkan kebersamaan kita," kata Zainuddin.

'Sudah seharusnya'

Sebenarnya sikap dan tindakan saling menghormati antar umat beragama di Indonesia masih banyak lagi, namun hal tersebut jarang terdengar.
Hal ini menurut Anick Hamim Tohari, seorang aktivis pluralisme yang pernah bekerja di Jaringan Islam Liberal, disebabkan oleh banyak hal.
Beberapa di antaranya karena sifat mudah lupa dan acuh.
"Meskipun itu (sikap saling menghormati) itu tindakan yang wajar dan sudah seharusnya dilakukan di Indonesia, tapi dalam kondisi di mana intoleransi meningkat tajam, kampanye ini (saling menghormati) harus terus-menurus dilakukan," kata Anick.
Anick pun mengimbau agar semua pemeluk agama saling mendukung dan mencegah adanya kasus-kasus intoleransi.

·         
Artikel di atas merupakan salah satu contoh dari sekian banyak sikap toleransi antar umat beragama yang terjadi di negeri ini. Sudah seharusnya kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki banyak sekali keragaman Suku, agama, dan RAS menjunjung tinggi sikap toleransi tersebut. Bisa dibayangkan jika semua orang di Indonesia memiliki sifat individualistis dan intolerir kepada sesama, maka yang terjadi hanyalah kerusuhan dan kesemrawutan dalam kehidupan bermasyarakat.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

       Jika tadi kita sudah melihat contoh nyata sikap toleransi beragama di Indonesia, maka di bawah ini akan kita kaji suatu tulisan yang bertentangan dengan rasa toleransi beragama. Artikel berikut ini merupakan beberapa contoh kasus yang bertolak belakang dengan artikel di atas, yaitu kasus-kasus yang terjadi akibat intoleransi beragama. Mari kita bahas bersama mengapa dapat terjadi intoleransi beragama di Indonesia.


Ini Enam Peristiwa Intoleran yang Pernah Terjadi di Indonesia


Jakarta, IDN Times - Aksi penyerangan rumah ibadah kembali pada hari ini, Minggu (11/2). Kali ini, jemaat Gereja St Lidwina, Sleman, Yogyakarta yang sedang menjalankan ibadah Minggu, menjadi sasaran usai seorang pemuda asal Banyuwangi, Jawa Timur, membawa pedang dan menyerang masuk.
Atas peristiwa ini, diketahui lima orang terluka, termasuk seorang pastor. 
Ternyata, kejadian penyerangan rumah ibadah maupun kegiatan keagamaan bukan sekali terjadi. Setidaknya ada enam kejadian serupa yang menciderai toleransi di Indonesia. Berikut penelusuran IDN Times:

1. Penyerangan Klenteng di Kediri

Sabtu (13/1/2018) malam, seorang pria menggunakan sepeda motor menerobos masuk ke Klenteng Tjoe Hwie Kiong, Jalan Yos Sudarso, Kediri, Jawa Timur.
Dilansir dari beritajatim.com, tempat ibadah bagi etnis Tionghoa yang letaknya berada di tepi Sungai Brantas ini dilempari batu sekitar pukul 21.30 WIB. Lemparan pelaku mengenai jendela dari bahan kaca. Akibatnya, kaca jendela pecah. 
Beruntung aparat Kepolisian segera datang setelah dihubungi pengurus klenteng. Pelaku pun berhasil diamankan.

2. Aksi sosial jemaat gereja gagal karena dituding kristenisasi

Sejumlah massa mengatasnamakan diri mereka Front Jihad Islam (FJI) dan beberapa ormas lainnya, membubarkan secara paksa acara bakti sosial yang digelar Gereja Katolik Santo Paulus Pringgolayan, Bantul, Yogyakarta, Minggu (28/1) lalu. 
Mulanya, jemaat Gereja Santo Paulus akan menjual sembako murah sebagai bagian dari acara perayaan ulang tahun gereja. Namun aksi ini terpaksa dibatalkan karena dianggap upaya kristenisasi.
Menurut pengakuan pihak gereja, acara sosial itu sengaja dilakukan di rumah Kepada Dusun Jaranan karena ingin membaur dengan masyarakat setempat. Kejadian ini pun diselesaikan lewat mediasi bersama pihak-pihak yang terkait dan memutuskan membuat surat pernyataan pembatalan acara. 
Insiden intoleransi agama ini bukan pertama kali di Kabupaten Bantul, karena  seorang camat beragama Katolik juga pernah ditolak sekelompok warga pada Februari 2017 lalu.

3. Kebaktian di Sabuga Bandung dibubarkan oleh Ormas Islam

Organisasi keagaamaan yang mengatasnamakan diri mereka Pembela Ahlu Sunnah (PAS), menggelar unjuk rasa menolak digelarnya kegiatan kebaktian di Gedung Sabuga, Bandung, Selasa (16/11/2016) lalu.
Ketua Pembela Ahlus Sunnah (PAS) Muhammad Roin, seperti dikutip dari Antara, meminta penyelenggara Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) memindahkan kegiatan keagamaan tersebut ke rumah ibadah, bukan di fasilitas umum.
Setelah berdiskusi, panitia pelaksana KKR sepakat menuruti permintaan massa dengan menghentikan kebaktian sesi kedua yang mestinya digelar pada malam hari.

4. Biksu dilarang beribadah di Tangerang

Sebuah video yang menampilkan seorang biksu dan umatnya dilarang beribadah di Desa Babat, Kecamatan Legok, Tangerang, viral di media sosial. 
Peristiwa terjadi pada Rabu (7/2/2018) lalu, berawal dari adanya penolakan warga atas rencana kegiatan kebaktian umat Budha dengan melakukan tebar ikan di lokasi danau bekas galian pasir di Kampung Kebon Baru, Desa Babat.
Sebelumnya, masyarakat juga sempat meminta Mulyanto Nurhalim selaku biksu di kampung tersebut untuk pindah dari sana. Pasalnya, warga resah karena melihat biksu tersebut melakukan ibadah dengan mengundang jemaat dari luar, hingga menganggap biksu tersebut akan mengajak orang lain untuk masuk agama Budha.
Namun, warga ternyata salah paham, karena yang datang ke situ sekadar memberi makan biksu saja. Meski demikian, kejadian ini telah diselesaikan secara kekeluargaan usai polisi dan seluruh elemen masyarakat setempat melakukan musyarawarah. 
Mereka memastikan rumah Biksu Mulyanto bukan rumah ibadah seperti kecurigaan warga selama ini. 

5. Gereja di Samarinda dilempar bom molotov, anak jadi korban

Aksi teror yang dilakukan oleh simpatisian ISIS di Gereja Oikumene, Sengkotek, Samarinda Kalimantan Timur, pada Minggu, 13 November 2016, hingga kini masih menyisakan pilu bagi korban.
Seorang pria meledakkan bom rakitan di halaman gereja ketika jemaat melakukan kebaktian.
Seorang balita usia dua tahun bernama Intan Olivia Marbun meninggal akibat luka bakar yang sangat parah. Sementara tiga anak lainnya mengalami luka yang tak kalah serius. Padahal sebelum peristiwa nahas ini terjadi, anak-anak tersebut tengah bersuka cita bermain di halaman gereja.
Tersangka yang saat kejadian menggunakan kaos bertuliskan jihad ternyata merupakan simpatisan ISIS. Kini, ia telah mendekam di balik jeruji besi usai dijatuhi hukuman seumur hidup oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Senin (25/09/2017) lalu.

6. Pastor gereja di Medan nyaris jadi korban bom bunuh diri saat pimpin misa

Pastor Albert Pandiangan, 60 tahun, nyaris menjadi korban bom bunuh diri saat tengah memimpin misa pada Minggu (28/08/2016). Saat sedang memimpin misa, ia diserang oleh seorang pemuda berusia 18 tahun. 
Pelaku berinisial IAH itu ikut duduk di dalam Gereja Katolik St Yosep Medan dan berpura-pura menjadi jemaat. IAH langsung mendekati Albert dengan membawa sebilah pisau dan bom rakitan di dalam tas. 
Tetapi, belum tiba di depan altar, muncul percikan api dari tas ranselnya. Tas itu kemudian ikut terbakar. 
Melihat gelagat remaja yang mencurigakan, Albert berlari dan menghindar. Tetapi, IAH tetap mengejar Pastor Albert sehingga membuat jemaat heboh dan berhamburan berlari ke luar gereja.
Sebagian mencoba menyelamatkan Albert dengan menangkap IAH. Usai tertangkap, ia kemudian memisahkan tas dari pelaku. Beruntung, bom belum sempat meledak. 
Jemaat kemudian memanggil polisi dan menyerahkan pelaku agar segera ditahan. Di dalam tas ransel pelaku, selain ditemukan bom yang gagal meledak, polisi turut menemukan kertas yang digambar mirip dengan bendera ISIS.  
·         
Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari beberapa contoh kasus di atas?
Tentunya kita akan merasa miris oleh tindakan anarkis para oknum – oknum tersebut. Masyarakat yang “seharusnya” merasa aman saat beribadah justru berbalik merasakan ketakutan akibat  teror orang-orang yang mempertahankan pahamnya demi kepentingan pribada atau kelompoknya.
Dari banyaknya kasus intoleransi beragama, kebanyakan kita lihat pelakunya berasal dari kelompok-kelompok yang menganut paham radikalisme. Para pelaku tersebut diajarkan dan dilatih untuk membenci orang-orang yang berbeda keyakinan atau bahkan mereka sampai hati menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah.
Dari semua fakta yang ada tentunya saya sebagai generasi muda merasa prihatin dan miris. Sejatinya para pelaku itu “korban” dari kelompok yang telah mencuci otaknya dan menyebarkan paham radikalisme. Sehingga menurut pendapat saya, Indonesia masih sangat haus toleransi utamanya toleransi beragama.
Dewasa ini semakin mempertegas kalau indonesia sangat memerlukan manusia-manusia yang memiliki rasa toleransi dan kemanusiaan. Karena Indonesia terdiri dari bermacam-macam perbedaan yang ada jadi amat sangat disayangkan jika perbedaan hanya menjadi senjata untuk membunyikan genderang.
------------------------------------------------------------------------------------------


Kesimpulan

Dari uraian 2 permalahan di atas dapat disimpulkan bahwa mewujudkan sikap toleransi di Indonesia bukanlah perkara yang mudah. Kita ibaratkan saja jika ada satu orang yang ingin menghasut suatu kelompok untuk bersiteru maka akan terjadi ketegangan yang melibatkan orang banyak. Begitu juga sebaliknya. Toleransi tidak akan tercipta jika masing-masing individu kekeh mempertahankan opininya masing-masing.
Dan kalau kita lihat sekarang, faktanya media-media justru banyak yang memberitakan kasus-kasus intoleransi beragama dibandingkan dengan toleransi beragama di masyarakat. Sehingga menurut opini saya pribadi negara kita mengalami kikisan rasa toleransi. Terkikisnya rasa toleransi memunculkan konflik antar kelompok yang bisa saja berakibat fatal hingga tak jarang nyawa menjadi taruhannya.
Yang perlu digarisbawahi dari kalimat diatas adalah Indonesia Darurat Toleransi.      
Mengapa saya mengatakan demikian?
Sejatinya toleransi diperlukan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis berdampingan antar kelompok,suku, etnis, dan agama. Namun, masih banyak manusia yang “salah jalan”. Dewasa ini adalah orang-orang yang mengikuti organisasi radikal yang hanya bermisi untuk menghancurkan paham-paham yang tidak sesuai dengan ajaran mereka. Mereka merasa jika ada kelompok yang tidak sesuai perintah Tuhannya maka harus dibunuh.
Tentu saja ini merupakan hal yang jelas-jelas salah dan dalam ajaran agama manapun tidak dibenarkan. Bahkan agama sendiri pun sangat menjunjung tinggi sikap toleransi antar umat beragama.
Lantas apa yang bisa kita pelajari dari bahasan kali ini?  

          “toleransi sangat diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Toleransi membuat kehidupan sosial manusia menjadi lebih selaras dan damai. Dan yang paling utama, tugas kita sebagai generasi muda untuk tidak memupuk sikap-sikap intoleransi beragama. Kita tidak dilarang untuk berorganisasi, namun harus cermat dan pandai memilah organisasi apa yang sedang kalian masuki. Jangan sampai organisasi itu malah mencuci otak kalian dengan paham-paham sesat yang mengancam keselamatan bersama”

          Saran saya, sebagai generasi muda, kita harus menjunjung tinggi toleransi. Ditambah kita sebagai orang Indonesia yang terdiri dari berbagai macam perbedaan. Jangan jadikan perbedaan sebagai musuh yang harus di bunuh. Tapi jadikan perbedaan tersebut sebagai teman yang harus diajak kemana pun kita pergi.


Sumber :
-         www.wikipedia.com
-         KBBI Online


Komentar

Postingan Populer